Kamarku
Surgaku
Sepulang
kuliah, aku memasuki ruangan di sudut paling belakang rumahku. Ku buka pintu
cokelat dan ku taruh tas merah jambuku di atas lemari baju berwarna hijau. Ku
semprotkan pengharum ruangan dan aroma harum pun membuatku semakin nyaman
berada di ruangan ini.
Ku
nyalakan kipas angin, “gerah dan lelah” gumamku dalam hati. Satu jam lamanya
aku berada di perjalanan pulang kuliah dengan mengendarai motor dan ini saatnya
aku merefleksikan tubuh ini. Ku berbaring di atas kasur, meletakan kepala di
atas bantal dan memeluk guling yang semuanya berwarna ungu bermotif bunga
tulip. Tak lupa ku juga peluk boneka yang aku beri nama “Zwolf”. Zwolf adalah
bahasa jerman yang artinya dua belas. Ku
namakan zwolf karena aku mendapatkan boneka itu pada tanggal dan bulan dua
belas, tahun dua ribu dua belas tepat di hari ulang tahunku.
Seraya
berbaring, ku tatap foto yang tergantung di dinding hijau ruangan ini. Terdapat
banyak foto. Ada foto ayah, bunda, kakak, adik, sahabat dan foto-foto selfie ku. Lima belas bingkai terpasang
di setiap sisi ruangan ini. Empat bingkai adalah bingkai kayu yang ku beli,
tiga bingkai merupakan kado dari para sahabat, dan selebihnya merupakan bingkai
yang ku buat sendiri dari kardus bekas dan dilapisi dengan kertas kado bermotif
bunga-bunga dipinggiran bingkainya.
Setelah
berbaring lima belas menit lamanya, aku beranjak dari kasur dan mengambil buku diary yang letaknya di sebelah dua album
foto dalam lemari coklat, yang tergantung satu meter di atas kasurku. Di diary inilah aku biasa meluapkan isi
hati dan rentetan peristiwa yang aku alami selama di kampus hari ini.
Setelah
puas menulis, ku nyalakan lagu dari handphone dengan volume lima. Ku
ikut menyanyikan lagu dengan suara lantang dan penuh penghayatan. Tiba-tiba
kakakku menghampiri dan berteriak “Berisiiiiik
des, jadi terbangun deh”. “Iya maaf,
ka” jawabku. Terlalu asyiknya menyanyikan lagu, aku sampai tak sadar bahwa
suaraku telah mengganggu kakakku yang tengah tertidur. Ku matikan lagu, dan
mulutku berhenti komat-kamit
bernyanyi.
Tak
lama berselang, adzan berkumandang. Ku ambil air wudhu, menggelar sajadah
berwarna kuning, dan ku dirikan shalat ashar ku. Tak lupa ku berdoa dan mencurahkan seluruh isi
hati pada yang maha kuasa, serta memanjatkan doa dengan penuh harap. Tanpa ku
sadari, saat
memanjatkan doa, pipiku telah basah dengan air mata. Setelah itu, perasaanku sangat lega.
Di
ruangan inilah aku merasa nyaman tiada terkira. Meskipun ruangan ini begitu
mini, namun banyaknya foto kenangan, ku bisa selalu mengenang. Puas memeluk boneka
yang selalu ada. Menulis diary tuk
meluapkan isi hati. Tempatku
mendengar dan menyanyikan lagu meski terkadang mengganggu. Dan tempat ku memanjatkan doa pada
Tuhan yang maha kuasa. Kamarku, surgaku.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar